Liga Indonesia adalah kompetisi sepak bola antarklub di Indonesia. Liga Indonesia diselenggarakan pertama kali pada tahun 1994 dan merupakan penggabungan dari 2 kompetisi sebelumnya, Liga Sepak Bola Utama (Galatama) dan Perserikatan. Liga Indonesia berada di bawah naungan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Saat ini, Liga Indonesia dibagi menjadi lima tingkat:
1. Kompetisi non-amatir, diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia
- Liga Super Indonesia.
- Divisi Utama Liga Indonesia.
2. Kompetisi amatir, diselenggarakan oleh Badan Liga Amatir Indonesia
- Divisi Satu Liga Indonesia.
- Divisi Dua Liga Indonesia.
- Divisi Tiga Liga Indonesia. Sejarah
Hingga tahun 1979, kompetisi sepak bola nasional di Indonesia diselenggarakan secara amatir, dan lebih dikenal dengan istilah “Perserikatan”.
Pada tahun 1979–80 diperkenalkan kompetisi Liga Sepak Bola Utama (Galatama). Meski demikian, baik Perserikatan maupun Galatama tetap berjalan sendiri-sendiri. Galatama merupakan kompetisi sepak bola semi-profesional yang terdiri dari sebuah divisi tunggal (kecuali pada musim tahun 1983 dan 1990 terdiri dari 2 divisi).
Pada tahun 1994, PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama dan membentuk Liga Indonesia, memadukan fanatisme yang ada di Perserikatan dan profesionalisme yang dimiliki Galatama. Dengan tujuan meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia.
Pada tahun 2008, PSSI menyelenggarakan Liga Super Indonesia sebagai liga sepak bola profesional pertama di Indonesia, menggantikan Divisi Utama sebagai kompetisi tingkat teratas.
Struktur Liga
- Liga Super Indonesia (Djarum Indonesia Super League) 18 club
- Divisi Utama Liga Indonesia (Liga Joss Indonesia) 34 club di bagi 3 grup Grup 1 (11 club), Grup 2 (12 club), Grup 3 (11 club)
- Divisi Satu Liga Indonesia, 42 club di bari 8 grup
- Divisi Dua Liga Indonesia, 64 club di bagi 8 grup
- Divisi Tiga Liga Indonesia
Daftar Juara:
- tahun 2009/2010
- Liga Super (Arema Indonesia)
- Divisi Utama (Persibo Bojonegoro)
- Divisi Satu (Persekam Metro FC Malang)
- Divisi Dua (Persikasi Bekasi)
- Divisi Tiga (Persewar Waropen)
- tahun 2008/2009
- Liga Super (Persipura Jayapura)
- Divisi Utama (Persisam Putra Samarinda)
- Divisi Satu (PS Mojokerto Putra)
- Divisi Dua (Barito Putra)
- Divisi Tiga (Persikotas Tasikmalaya)
- tahun 2007
- Divisi Utama (Sriwijaya FC)
- Divisi Satu (Persibo Bojonegoro)
- Divisi Dua (Persires Rengat)
- Divisi Tiga (Persem Mojokerto)
- tahun 2006
- Divisi Utama (Persik Kediri)
- Divisi Satu (Persebaya Surabaya)
- Divisi Dua (PSIR Rembang)
- Divisi Tiga (Perseta Tulungagung)
- tahun 2005
- Divisi Utama (Persipura Jayapura)
- Divisi Satu (PSIM Yogyakarta)
- Divisi Dua (Persiku Kudus)
- Divisi Tiga (PSIR Rembang)
- tahun 2004
- Divisi Utama (Persebaya Surabaya)
- Divisi Satu (Arema Malang)
- Divisi Dua (Persibo Bojonegoro)
- tahun 2003
- Divisi Utama (Persik Kediri)
- Divisi Satu (Persebaya Surabaya)
- Divisi Dua (Persekabpas Pasuruan)
- tahun 2002
- Divisi Utama (Petrokimia Putra Gresik)
- Divisi Satu (Persik Kediri)
- Divisi Dua (Persid Jember)
- tahun 2001
- Divisi Utama (Persija Jakarta)
- Divisi Satu (PSIS Semarang)
- tahun1999/2000
- Divisi Utama (PSM Makasar)
- Divisi Satu (Persita Tanggerang)
- tahun 1998/1999
- Divisi Utama (PSIS Semarang)
- Divisi Satu (PSPS Pekanbaru)
- Divisi Dua (PS Palembang)
- tahun 1997/1998
- Divisi Utama (di hentikan)
- Divisi Satu (di hentikan)
- Divisi Dua (di hentikan)
- tahun 1996/1997
- Divisi Utama (Persebaya Surabaya)
- Divisi Satu (Persikota Tanggerang)
- Divisi Dua
- tahun 1995/1996
- Divisi Utama (Mastrans Bandung Raya)
- Divisi Satu (PSP Padang)
- Divisi Dua (Persikota Tanggerang)
- tahun 1994/1995
- Divisi Utama (Persib Bandung)
- Divisi Satu (Persikab Bandung)
- Divisi Dua (Persikabo Bogor)
Tingkat tertinggi Liga Indonesia seringkali menggunakan nama sponsor sebagai titelnya. Sponsor yang namanya pernah digunakan sebagai titel Liga Indonesia adalah sebagai berikut:
- 1994-1996 : Dunhill (Liga Dunhill)
- 1996-1997 : Kansas (Liga Kansas)
- 1997-1999 : tidak ada sponsor (Liga Indonesia)
- 1999-2004 : Bank Mandiri (Liga Bank Mandiri)
- 2004-sekarang: Djarum (Djarum Indonesia Super League)
Read More ..
from medhioen begint de victory
Jumat, 25 Maret 2011
Ir. Soeratin Sosrosoegondo
Ir. Soeratin Sosrosoegondo (lahir di Yogyakarta pada17 Desember 1898) adalah seorang insinyur Indonesia. Ia juga adalah ketua umum PSSI periode 1930-1940. Ia adalah salah satu pendiri sekaligus ketua umum PSSI yang pertama.
Soeratin lahir dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Soesrosoegondo, guru pada Kweekschool, menulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr Soetomo, pendiri Budi Utomo.
Tamat dari Koningen Wilhelmina School di Jakarta, Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, pada 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada 1927.
Sekembalinya Soeratin dari Eropa pada 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung.Namun, pada waktu bersamaan, Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola, yang bisa diwujudkan pada 1930.Organisasi boleh dikatakan realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olahraga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar Soeratin, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah “sepakraga” diganti dengan “sepakbola” dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.
Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit. Rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat letnan kolonel. Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api.
Namun sayang, di masa tuanya Suratin hidup dalam kesulitan ekonomi.Suratin wafat pada tanggal 1 Desember 1959.
Untuk mengenang jasa-jasa beliau dalam merintis dan membangun sepak bola Indonesia setiap tahun di ada kan Liga Remaja Nasional yang di beri nama Liga Remaja Nasional Piala Soeratin yang di kelola Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) Read More ..
Soeratin lahir dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Soesrosoegondo, guru pada Kweekschool, menulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr Soetomo, pendiri Budi Utomo.
Tamat dari Koningen Wilhelmina School di Jakarta, Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, pada 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada 1927.
Sekembalinya Soeratin dari Eropa pada 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung.Namun, pada waktu bersamaan, Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola, yang bisa diwujudkan pada 1930.Organisasi boleh dikatakan realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olahraga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar Soeratin, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah “sepakraga” diganti dengan “sepakbola” dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.
Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit. Rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat letnan kolonel. Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pemimpin Djawatan Kereta Api.
Namun sayang, di masa tuanya Suratin hidup dalam kesulitan ekonomi.Suratin wafat pada tanggal 1 Desember 1959.
Untuk mengenang jasa-jasa beliau dalam merintis dan membangun sepak bola Indonesia setiap tahun di ada kan Liga Remaja Nasional yang di beri nama Liga Remaja Nasional Piala Soeratin yang di kelola Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) Read More ..
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)
Sekilas Tentang PSSI
PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia ) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat- saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih – benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.Awal Mula Berdirinya PSSI
PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu – satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.
Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada” ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan, dan sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, Soeratin menyadari sepenuhnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda) Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda.
Untuk melaksanakan cita – citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh – tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri – ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan, yang selanjutnya di lakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan lain – lain. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).
Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil – wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB), Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) E.A Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga Kapten Kes.IVBM) Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan tersebut maka, lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) nama PSSI ini diubah dalam kongres PSSI di Solo 1950 menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang juga menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSSI.
Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dkk segera menyusun program yang pada dasarnya “menentang” berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan “stridij program” yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut “Steden Tournooi” dimulai pada tahun 1931 di Surakarta .
Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI , kemudian menggugah Susuhunan Paku Buwono X, setelah kenyataan semakin banyaknya rakyat pesepakbola di jalan – jalan atau tempat – tempat dan di alun – alun, di mana Kompetisi I perserikatan diadakan. Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Stadion itu diresmikan Oktober 1933. Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar.
Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo.
Karena kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI. Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria “Winner Sport Club “ pada tahun 1936.
Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi / Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena beliau menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut “Gentelemen’s Agreement” yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda). Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut.
Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942.
M asuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).
Perkembangan PSSI
Pasca Soeratin ajang sepakbola nasional ini terus berkembang walaupun perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia ini mengalami pasang surut dalam kualitas pemain, kompetisi dan organisasinya. Akan tetapi olahraga yang dapat diterima di semua lapisan masyarakat ini tetap bertahan apapun kondisinya. PSSI sebagai induk dari sepakbola nasional ini memang telah berupaya membina timnas dengan baik, menghabiskan dana milyaran rupiah, walaupun hasil yang diperoleh masih kurang menggembirakan.
Hal ini disebabkan pada cara pandang yang keliru. Untuk mengangkat prestasi Timnas, tidak cukup hanya membina Timnas itu sendiri, melainkan juga dua sektor penting lainnya yaitu kompetisi dan organisasi, sementara tanpa disadari kompetisi nasional kita telah tertinggal.
Padahal di era sebelum tahun 70-an, banyak pemain Indonesia yang bisa bersaing di tingkat internasional sebut saja era Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro dan belakangan era Ronny Pattinasarani.
Dalam perkembangannya PSSI sekarang ini telah memperluas jenis kompetisi dan pertandingan yang dinaunginya. Kompetisi yang diselenggarakan oleh PSSI di dalam negeri ini terdiri dari :
• Divisi utama yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi satu yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi dua yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi tiga yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus amatir.
• Kelompok umur yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain:
• Dibawah usia 15 tahun (U-15)
• Dibawah usia 17 tahun (U-170
• Dibawah Usia 19 tahun (U-19)
• Dibawah usia 23 tahun (U-23)
• Sepakbola Wanita
• Futsal.
PSSI pun mewadahi pertandingan – pertandingan yang terdiri dari pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak perkumpulan atau klub sepakbola, pengurus cabang, pengurus daerah yang dituangkan dalam kalender kegiatan tahunan PSSI sesuai dengan program yang disusun oleh PSSI. Pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak ketiga yang mendapat izin dari PSSI. Pertandingan dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan pekan Olah Raga Nasional (PON). Pertandingan – pertandingan lainnya yang mengikutsertakan peserta dari luar negeri atau atas undangan dari luar negeri dengan ijin PSSI.
Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat daerah – daerah di seluruh Indonesia . Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi olahraga dari rakyat dan untuk rakyat.
Dalam perkembangannya PSSI telah menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat congress FIFA di Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor pula pembentukan AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan.
Lebih dari itu PSSI tahun 1953 memantapkan posisinya sebagai organisasi yang berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, no 18. Berarti PSSI adalah satu – satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara sejak 8 tahun setelah Indonesia merdeka. Read More ..
PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia ) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat- saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih – benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.Awal Mula Berdirinya PSSI
PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu – satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.
Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada” ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan, dan sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, Soeratin menyadari sepenuhnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda) Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda.
Untuk melaksanakan cita – citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh – tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri – ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan, yang selanjutnya di lakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan lain – lain. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).
Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil – wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB), Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) E.A Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga Kapten Kes.IVBM) Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan tersebut maka, lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) nama PSSI ini diubah dalam kongres PSSI di Solo 1950 menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang juga menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSSI.
Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dkk segera menyusun program yang pada dasarnya “menentang” berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan “stridij program” yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut “Steden Tournooi” dimulai pada tahun 1931 di Surakarta .
Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI , kemudian menggugah Susuhunan Paku Buwono X, setelah kenyataan semakin banyaknya rakyat pesepakbola di jalan – jalan atau tempat – tempat dan di alun – alun, di mana Kompetisi I perserikatan diadakan. Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Stadion itu diresmikan Oktober 1933. Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar.
Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo.
Karena kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI. Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria “Winner Sport Club “ pada tahun 1936.
Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi / Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena beliau menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut “Gentelemen’s Agreement” yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda). Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut.
Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942.
M asuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).
Perkembangan PSSI
Pasca Soeratin ajang sepakbola nasional ini terus berkembang walaupun perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia ini mengalami pasang surut dalam kualitas pemain, kompetisi dan organisasinya. Akan tetapi olahraga yang dapat diterima di semua lapisan masyarakat ini tetap bertahan apapun kondisinya. PSSI sebagai induk dari sepakbola nasional ini memang telah berupaya membina timnas dengan baik, menghabiskan dana milyaran rupiah, walaupun hasil yang diperoleh masih kurang menggembirakan.
Hal ini disebabkan pada cara pandang yang keliru. Untuk mengangkat prestasi Timnas, tidak cukup hanya membina Timnas itu sendiri, melainkan juga dua sektor penting lainnya yaitu kompetisi dan organisasi, sementara tanpa disadari kompetisi nasional kita telah tertinggal.
Padahal di era sebelum tahun 70-an, banyak pemain Indonesia yang bisa bersaing di tingkat internasional sebut saja era Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro dan belakangan era Ronny Pattinasarani.
Dalam perkembangannya PSSI sekarang ini telah memperluas jenis kompetisi dan pertandingan yang dinaunginya. Kompetisi yang diselenggarakan oleh PSSI di dalam negeri ini terdiri dari :
• Divisi utama yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi satu yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi dua yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
• Divisi tiga yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus amatir.
• Kelompok umur yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain:
• Dibawah usia 15 tahun (U-15)
• Dibawah usia 17 tahun (U-170
• Dibawah Usia 19 tahun (U-19)
• Dibawah usia 23 tahun (U-23)
• Sepakbola Wanita
• Futsal.
PSSI pun mewadahi pertandingan – pertandingan yang terdiri dari pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak perkumpulan atau klub sepakbola, pengurus cabang, pengurus daerah yang dituangkan dalam kalender kegiatan tahunan PSSI sesuai dengan program yang disusun oleh PSSI. Pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak ketiga yang mendapat izin dari PSSI. Pertandingan dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan pekan Olah Raga Nasional (PON). Pertandingan – pertandingan lainnya yang mengikutsertakan peserta dari luar negeri atau atas undangan dari luar negeri dengan ijin PSSI.
Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat daerah – daerah di seluruh Indonesia . Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi olahraga dari rakyat dan untuk rakyat.
Dalam perkembangannya PSSI telah menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat congress FIFA di Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor pula pembentukan AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan.
Lebih dari itu PSSI tahun 1953 memantapkan posisinya sebagai organisasi yang berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, no 18. Berarti PSSI adalah satu – satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara sejak 8 tahun setelah Indonesia merdeka. Read More ..
Senin, 14 Maret 2011
Timnas SEA Games Tanpa Okto
Alfred Riedl akhirnya mengumumkan 20 pemain yang terpilih untuk masuk timnas SEA Games 2011. Dalam daftar itu tak ada nama Oktovianus Maniani.
Hal itu disampaikan Riedl dalam jumpa pers yang diadakan, Senin (14/3/2011). Disebutkan Riedl jika alasannya mencoret Okto kali ini murni masalah indisipliner.
Okto memang kerap mangkir dari Training Camp (TC) tim Pra Olimpiade 2012 lalu dengan berbagai macam alasan. Dimulai larangan dari klubnya Sriwijaya FC sampai sakit.
Namun Riedl kali ini sepertinya tidak mau bermurah hati pada pemain yang kerap dicap "anak kesayangan" itu. Untuk menggantikan perang Okto, Riedl masih ada tiga pemain di sisi kiri dan salah satunya pemain Persiwa Wamena Ferdinand Sinaga. Ini untuk ketiga kalinya Riedl mencoret tiga pemainnya asal Papua sejak melatih Indonesia pertengahan 2010 lalu. Sebelumnya Boaz Solossa dan Titus Bonai sudah dikeluarkan karena alasan indisipliner juga.
Dari 20 nama itu Riedl tidak menyertakan Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan terkait status mereka sebagai pemain klub peserta Liga Primer Indonesia (LPI) saat ini.
Namun ada dua nama pemain keturunan yang diikutkan yakni Diego Michels dan Ruben Wuarbanaran. Sisanya adalah para pemain yang bermain di kompetisi ISL.
Para pemain itu rencananya akan mulai masuk TC pada 24 April 2011 di Jakarta. Kemudian menjalani TC jangka panjang, di antaranya ke Austria mulai 7 Mei dan kembali ke Jakarta pada 10 Juni 2011.
Berikut adalah ke-20 nama pemain yang diikutkan oleh Riedl
Kiper: Kurnia Mega, Rifki Mokodompit, Arditani Ardiyasa.
Bek: Diego Michels, Herry Susilo, Irfan Raditya, Gunawan Dwi Cahyo, Abdul Rachman, Ruben Wuarbanaran, Fauzan Djamal.
Gelandang: Stevie Bonsapia, Zulham Zumrud, Hendro Siswanto, Egi Malgiansyah, Lasut Mahadirga, Ferdinand Sinaga, Dendi Santoso.
Striker: Jajang Muliana, Yongki Aribowo, Fauzi Rishadi. Read More ..
Hal itu disampaikan Riedl dalam jumpa pers yang diadakan, Senin (14/3/2011). Disebutkan Riedl jika alasannya mencoret Okto kali ini murni masalah indisipliner.
Okto memang kerap mangkir dari Training Camp (TC) tim Pra Olimpiade 2012 lalu dengan berbagai macam alasan. Dimulai larangan dari klubnya Sriwijaya FC sampai sakit.
Namun Riedl kali ini sepertinya tidak mau bermurah hati pada pemain yang kerap dicap "anak kesayangan" itu. Untuk menggantikan perang Okto, Riedl masih ada tiga pemain di sisi kiri dan salah satunya pemain Persiwa Wamena Ferdinand Sinaga. Ini untuk ketiga kalinya Riedl mencoret tiga pemainnya asal Papua sejak melatih Indonesia pertengahan 2010 lalu. Sebelumnya Boaz Solossa dan Titus Bonai sudah dikeluarkan karena alasan indisipliner juga.
Dari 20 nama itu Riedl tidak menyertakan Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan terkait status mereka sebagai pemain klub peserta Liga Primer Indonesia (LPI) saat ini.
Namun ada dua nama pemain keturunan yang diikutkan yakni Diego Michels dan Ruben Wuarbanaran. Sisanya adalah para pemain yang bermain di kompetisi ISL.
Para pemain itu rencananya akan mulai masuk TC pada 24 April 2011 di Jakarta. Kemudian menjalani TC jangka panjang, di antaranya ke Austria mulai 7 Mei dan kembali ke Jakarta pada 10 Juni 2011.
Berikut adalah ke-20 nama pemain yang diikutkan oleh Riedl
Kiper: Kurnia Mega, Rifki Mokodompit, Arditani Ardiyasa.
Bek: Diego Michels, Herry Susilo, Irfan Raditya, Gunawan Dwi Cahyo, Abdul Rachman, Ruben Wuarbanaran, Fauzan Djamal.
Gelandang: Stevie Bonsapia, Zulham Zumrud, Hendro Siswanto, Egi Malgiansyah, Lasut Mahadirga, Ferdinand Sinaga, Dendi Santoso.
Striker: Jajang Muliana, Yongki Aribowo, Fauzi Rishadi. Read More ..
Jumat, 04 Maret 2011
Dubes RI di Swiss: Nurdin Halid Bohong
Duta Besar Republik Indonesia di Swiss, Djoko Susilo, menyatakan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Nurdin Halid selama ini telah melakukan kebohongan ke publik
Djoko mengatakan kebohongan yang dimaksud yaitu FIFA pada Juni 2007 lalu sebenarnya sudah melarang Nurdin menjadi Ketua Umum PSSI karena sudah pernah diputuskan bersalah oleh pengadilan dan dihukum. FIFA dalam suratnya ke PSSI juga meminta PSSI harus melakukan pemilihan ulang Ketua Umum PSSI."Tapi Nurdin dan petinggi PSSI lainnya menyembunyikan isi surat FIFA itu dan tetap menjabat hingga sekarang. Ini tindakan kebohongan, ini sudah kriminal sebenarnya," kata Djoko kepada Tempo, Kamis (3/3).
Dengan isi surat FIFA yang seperti itu, kata Djoko, seharusnya pengurus PSSI sekarang tidak sah atau telah dianulir FIFA sejak 2007. "Seharusnya kan ada pemilihan ulang, tapi PSSI tidak melakukan itu tahun 2007 lalu," ujarnya.
Djoko mengatakan dengan terkuaknya kebohongan PSSI ini, seharusnya Nurdin dan Nugraha Besoes bisa digugat. "Mereka sudah tahu ada surat FIFA Juni 2007 yang isinya seperti itu, tapi kenapa didiamkan, tidak dilaksanakan? Kenapa pengurus PSSI menyembunyikan adanya perintah pemilihan ulang? Pemilihan 2007 itu tidak sah," kata Djoko.
Menurut Djoko, FIFA selama ini hanya mendapat informasi sepihak dari PSSI saja mengenai sepak bola di Tanah Air dan segala permasalahannya. FIFA tidak pernah mendengar informasi dari pihak lain. "Pantas saja orang-orang PSSI kalau ke Zurich (Markas FIFA di Swiss) selama ini tidak berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Swiss. Jadi seperti ada yang mereka tutupi, tidak seperti pengurus cabang olahraga lainnya yang koordinasi dengan kami," ujarnya.
Djoko mengatakan pekan depan ia sudah menjadwalkan bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter untuk mengadukan Nurdin cs atas perbuatannya selama ini. "Saya setuju dengan Menpora untuk meluruskan penyimpangan di tubuh PSSI, ini bukan intervensi pemerintah," kata Djoko.
Read More ..
Djoko mengatakan kebohongan yang dimaksud yaitu FIFA pada Juni 2007 lalu sebenarnya sudah melarang Nurdin menjadi Ketua Umum PSSI karena sudah pernah diputuskan bersalah oleh pengadilan dan dihukum. FIFA dalam suratnya ke PSSI juga meminta PSSI harus melakukan pemilihan ulang Ketua Umum PSSI."Tapi Nurdin dan petinggi PSSI lainnya menyembunyikan isi surat FIFA itu dan tetap menjabat hingga sekarang. Ini tindakan kebohongan, ini sudah kriminal sebenarnya," kata Djoko kepada Tempo, Kamis (3/3).
Dengan isi surat FIFA yang seperti itu, kata Djoko, seharusnya pengurus PSSI sekarang tidak sah atau telah dianulir FIFA sejak 2007. "Seharusnya kan ada pemilihan ulang, tapi PSSI tidak melakukan itu tahun 2007 lalu," ujarnya.
Djoko mengatakan dengan terkuaknya kebohongan PSSI ini, seharusnya Nurdin dan Nugraha Besoes bisa digugat. "Mereka sudah tahu ada surat FIFA Juni 2007 yang isinya seperti itu, tapi kenapa didiamkan, tidak dilaksanakan? Kenapa pengurus PSSI menyembunyikan adanya perintah pemilihan ulang? Pemilihan 2007 itu tidak sah," kata Djoko.
Menurut Djoko, FIFA selama ini hanya mendapat informasi sepihak dari PSSI saja mengenai sepak bola di Tanah Air dan segala permasalahannya. FIFA tidak pernah mendengar informasi dari pihak lain. "Pantas saja orang-orang PSSI kalau ke Zurich (Markas FIFA di Swiss) selama ini tidak berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Swiss. Jadi seperti ada yang mereka tutupi, tidak seperti pengurus cabang olahraga lainnya yang koordinasi dengan kami," ujarnya.
Djoko mengatakan pekan depan ia sudah menjadwalkan bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter untuk mengadukan Nurdin cs atas perbuatannya selama ini. "Saya setuju dengan Menpora untuk meluruskan penyimpangan di tubuh PSSI, ini bukan intervensi pemerintah," kata Djoko.
Read More ..
Jumat, 25 Februari 2011
Pemerintah Ancam Jatuhkan Sanksi pada PSSI
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Malarangeng telah memberikan peringatan kepada PSSI. Jika tidak dilaksanakan maka pemeritah akan menjatuhkan sanksi kepada PSSI.
Hal itu disampaikan Andi di sela-sela acara Council Executive Committee Meeting di Hotel Nusa Dua Beach, Nusa Dua, Jumat (25/2/2011).
"Sikap pemerintah sudah memberikan catatan berupa peringatan yang harus dilaksanakan oleh PSSI," kata Andi.
Andi menambahkan, pihaknya masih menunggu jawaban dari PSSI terkait peringatan yang sudah diberikan tersebut. Namun, tidak dijelaskan peringatan apa yang diberikan kepada PSSI terkait kongres PSSI.
"Sekarang posisi kita menunggu respon yg jelas dari PSSI," kata pria asal Makassar tersebut.
Menurut Andi, jika PSSI melaksanakan peringatan tersebut maka kongres akan berlangsung dengan baik.
"Tapi kalau tidak, kita akan ambil tindakan sanksi sesuai kewenangan di Undang-Undang," tegas Andi.
Sementara itu, Andi berharap aksi unjuk rasa yang menuntut Ketua PSSI Nurdin Halin mundur dan masa pendukungnya bisa berjalan damai.
"Aspirasi masyarakat dilakukan secara damai. Semua pihak keamanan punya tugas memastikan agar demonstrasi dilakukan dengan damai," katanya. Read More ..
Hal itu disampaikan Andi di sela-sela acara Council Executive Committee Meeting di Hotel Nusa Dua Beach, Nusa Dua, Jumat (25/2/2011).
"Sikap pemerintah sudah memberikan catatan berupa peringatan yang harus dilaksanakan oleh PSSI," kata Andi.
Andi menambahkan, pihaknya masih menunggu jawaban dari PSSI terkait peringatan yang sudah diberikan tersebut. Namun, tidak dijelaskan peringatan apa yang diberikan kepada PSSI terkait kongres PSSI.
"Sekarang posisi kita menunggu respon yg jelas dari PSSI," kata pria asal Makassar tersebut.
Menurut Andi, jika PSSI melaksanakan peringatan tersebut maka kongres akan berlangsung dengan baik.
"Tapi kalau tidak, kita akan ambil tindakan sanksi sesuai kewenangan di Undang-Undang," tegas Andi.
Sementara itu, Andi berharap aksi unjuk rasa yang menuntut Ketua PSSI Nurdin Halin mundur dan masa pendukungnya bisa berjalan damai.
"Aspirasi masyarakat dilakukan secara damai. Semua pihak keamanan punya tugas memastikan agar demonstrasi dilakukan dengan damai," katanya. Read More ..
'Nurdin Pilih Turun Soft Landing atau Darurat'
Ketua Umum PSSI Nurdin Halid diminta turun dari jabatannya dengan soft landing. Namun, jika tetap bersikeras bertahan, maka ia terancam diturunkan secara darurat oleh pecinta bola Indonesia.
Kisruh PSSI akibat ekses proses Kongres PSSI sebaiknya dicarikan jalan keluar yang bisa menyejukkan semua pihak. Untuk itu, angggota Komisi Olahraga DPR RI Gede Pasek Suardika menyarankan agar diatur mekanisme Nurdin Halid bisa turun dengan soft landing.
"Daripada dipaksa mendarat darurat kan lebih baik soft landing. Semua nyaman, tidak ada yang dipermalukan dan reformasi struktur PSSI bisa berjalan," kata Pasek Suardika dalam rilias yang disampaikan, Jumat (25/2/2011).
Untuk hal itu, loyalis Nurdin Halid harus bekerja produktif melakukan soft landing tersebut untuk menyelamatkan kefiguran NH yang merosot ke titik nadir. Sehingga NH bisa terhindar dari korban gerakan revolusi PSSI yang dilakukan masyarakat pecinta bola dengan cara yang memalukan.
Namun kalau upaya suksesi tidak bisa dilakukan dengan mulus, maka memang sudah seharusnya pemerintah turun tangan. "Kalau bisa berjalan mulus, pemerintah memantau saja, tapi kalau masih dengan mekanisme otoriter dan main kayu yang kasar, maka pemerintah wajib ambil alih," kata Pasek.
Ditegaskannya, ini bukan republik FIFA tapi Republik Indonesia. "Urusan bola itu bukan hanya milik oknum pengurus PSSI saja tapi juga urusan mayoritas masyarakat Indonesia yang memang pecinta bola," tegasnya.
Pasek Suardika mengaku geli melihat reaksi petinggi PSSI yang menuding pihak yang mengkritiknya sebagai orang tidak mengerti bola.
"Kalau memang kubu NH tidak mau mendarat dengan mulus untuk diganti maka dipaksa mendarat darurat harus dilakukan. Untuk itu perangkat pendaratan darurat harus disiapkan guna mencegah kerugian yang besar bagi dunia sepakbola Indonesia," tegas Pasek Suardika.
Read More ..
Kisruh PSSI akibat ekses proses Kongres PSSI sebaiknya dicarikan jalan keluar yang bisa menyejukkan semua pihak. Untuk itu, angggota Komisi Olahraga DPR RI Gede Pasek Suardika menyarankan agar diatur mekanisme Nurdin Halid bisa turun dengan soft landing.
"Daripada dipaksa mendarat darurat kan lebih baik soft landing. Semua nyaman, tidak ada yang dipermalukan dan reformasi struktur PSSI bisa berjalan," kata Pasek Suardika dalam rilias yang disampaikan, Jumat (25/2/2011).
Untuk hal itu, loyalis Nurdin Halid harus bekerja produktif melakukan soft landing tersebut untuk menyelamatkan kefiguran NH yang merosot ke titik nadir. Sehingga NH bisa terhindar dari korban gerakan revolusi PSSI yang dilakukan masyarakat pecinta bola dengan cara yang memalukan.
Namun kalau upaya suksesi tidak bisa dilakukan dengan mulus, maka memang sudah seharusnya pemerintah turun tangan. "Kalau bisa berjalan mulus, pemerintah memantau saja, tapi kalau masih dengan mekanisme otoriter dan main kayu yang kasar, maka pemerintah wajib ambil alih," kata Pasek.
Ditegaskannya, ini bukan republik FIFA tapi Republik Indonesia. "Urusan bola itu bukan hanya milik oknum pengurus PSSI saja tapi juga urusan mayoritas masyarakat Indonesia yang memang pecinta bola," tegasnya.
Pasek Suardika mengaku geli melihat reaksi petinggi PSSI yang menuding pihak yang mengkritiknya sebagai orang tidak mengerti bola.
"Kalau memang kubu NH tidak mau mendarat dengan mulus untuk diganti maka dipaksa mendarat darurat harus dilakukan. Untuk itu perangkat pendaratan darurat harus disiapkan guna mencegah kerugian yang besar bagi dunia sepakbola Indonesia," tegas Pasek Suardika.
Read More ..
Langganan:
Entri (Atom)